“MBAH BURENG” CERITA RAKYAT DESA BANJARDAWA
Desa Banjardawa termasuk salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang. Sejarah Desa Banjardawa sangat erat kaitannya dengan kejayaan industri gula dimasa Kolonial Belanda, dimana pernah berdiri Suikerfabriek Bandjardawa (Pabrik Gula Banjardawa) yang dibangun sekitar tahun 1844.
Di Desa Banjardawa juga ada cerita rakyat yang terkenal dengan cerita “Mbah Bureng”. Pada zaman penjajahan Hindia Belanda yang menerapkan kerja paksa yang dikenal dengan sebutan kerja rodi. Rakyat dipaksa untuk bekerja tanpa upah dan tanpa makan. Penjajah Hindia Belanda bertindak semena-mena, siapa saja yang berani melawan tentu akan disiksa dipenjara bahkan dibunuh.
Pada suatu hari ada beberapa warga pribumi dari dusun Dadapan (sekarang sebelah timur Desa Taman) dikejar-kejar oleh Hindia-Belanda karena berani menentang kerja paksa, mereka lari tunggang langgang dan sampailah di Desa Banjardawa.
Tersebutlah di wilayah Desa Banjardawa ada padepokan yang dihuni kakek tua dengan beberapa cantriknya. Konon kakek tua itu adalah seorang yang menyebarkan Syiar Islam di wilayah itu.
(Dialog Kakek Tua dan Cantrik) :
Kakek Tua : “Hai para Cantrik, apa kalian sudah bersih-bersih
padepokan dan mengisi air padasan (tempat wudhu) ?”
Cantrik : “Sudah Kek, kami sudah bersih-bersih padepokan dan
mengisi air padasan (tempat wudhu)”
Kakek Tua : “Oo… iya, terus jangan sampai melupakan sholat
(sembahyang) lima waktu ya. Sebab sholat itu kewajiban
Orang Islam.
(Tiba-tiba saat di Padepokan sedang ada percakapan, Kakek Tua dan Para Cantrik datanglah warga pribumi yang berlarian ke Padepokan).
Warga Pribumi : “Tolong …. tolong …. tolong Kek”
Kakek Tua : “Ki Sanak, kamu siapa dan dari mana asalmu?
Kok kesini ada apa?”
Warga Pribumi : “Kami warga pribumi dari Dusun Dadapan Kek,
Kami dikejar-kejar Tentara Hindia-Belanda karena kami
menentang untuk kerja paksa Kek”
Kakek Tua : “O… begitu, memang Kolonial Hindia-Belanda sangat
kejam, terus sekarang mereka dimana?”
Warga Pribumi : “Itu Kek …. ada di perbatasan desa, Kami mohon
perlindungan Kek”
Kakek Tua : “Silahkan kalian bersembunyi di Padepokan ini”.
(Kakek Tua itu ternyata bukan orang biasa, tetapi Kakek Tua itu mempunyai daya kekuatan yang tinggi, Kakek Tua itu kemudian pergi menuju perbatasan desa menemui Pasukan Hindia-Belanda. Terjadilah percakapan Kakek Tua dan Tentara Hindia Belanda).
Tentara Hindia-Belanda : “Hai, orang tua !!! Apakah kamu melihat para
pemberontak yang lari di kampung ini?”
Kakek Tua : “Saya tidak tahu Tuan Menir”
Tentara Hindia-Belanda : ”End Ike tidak percaya, Ike tadi melihat para
pemberontak lari kesini”
Kakek Tua : “Sungguh Tuan …. Saya tidak melihat”
Tentara Hindia Belanda : “Pasukan !!! Geledah Padepokan dan
sekitarnya …!!!”
(Dengan daya kekuatan yang linuwih Kakek Tua, seketika itu situasi yang tadinya terang benderang di dusun itu tiba-tiba menjadi “Bureng” (gelap).
Akhirnya Tentara Hindia-Belanda menghentikan penggeledahan itu karena dikira hari sudah malam dan tidak bisa melihat apa-apa di wilayah itu.
Para Pribumi sangat gembira karena mereka selamat dari kejaran tentara Hindia-Belanda.
Mereka heran dari kejadian itu, kenapa hari yang semestinya terang benderang tiba-tiba menjadi “Bureng” (gelap).
Mereka mempercayai peristiwa itu karena adanya kekuatan dari Kakek Tua penunggu Padepokan itu.
Sejak saat itu mereka menyebut Kakek Tua itu dengan sebutan “Mbah Bureng” dan sebutan itu sampai sekarang masih ada.
Petilasan Mbah Bureng terletak di Desa Banjardawa Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang.
| “Sumber Cerita dari Cerita Warga Masyarakat Desa Banjardawa secara turun temurun”. |
